Minggu, 06 Desember 2009

Muhasabah, Beruntung atau Merugi??

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS 59:18)

Sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan posting karena ada urusan administrasi (???)

Sudahkah kita menyiapkan untuk hari esok?? Hal itu menjadi pertanyaan yang jawabannya nggak konsisten. Kalo kita bilang sudah ada, mestinya ada bukti tanda dari persiapan yang kita lakukan. Jika tidak, maka bercabang dualah arahnya, yaitu tetap begitu saja atau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Akhirnya dari pertanyaan tersebut didapat dua arah, yaitu menjadi lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya. Jika lebih baik maka kita termasuk orang yang beruntung, jika tidak maka kita menjadi orang yang merugi.

Orang beruntung itu nggak dilihat dari harta, tetapi amalannya. Harta hanya sarana untuk mendapatkan keberuntungan. Terbukti, orang yang tajir alias kaya akan merasa kurang kalo nggak seimbang dengan spiritualnya. Orang pelit akan selalu takut dengan hartanya karena ia diperbudak oleh hartanya, orang dermawan akan kebingungan kemana ia memberi sebagian hartanya untuk orang yang membutuhkan. Itu kalau orang dermawan tersebut jarang shalat, tapi kalo rajin shalat dan ke masjid, dia akan semakin lancar sedekahnya.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung." (QS 59: 19-20)

Ayat diatas memberitahukan bahwa orang akan terbagi dua jalannya di hari esok, yaitu jalan kebaikan atau jalan keburukan. Dan bagi orang yang beruntung itulah yang berbeda dengan orang yang merugi tersebut. Orang yang beruntung itu pada dasarnya adalah orang yang diridhai Allah segala perbuatan dan amalannya, dan ia tidak membanggakan diri dalam melakukan ibadah tersebut. Semuanya itu diniatkan karena Allah.

Lain halnya dengan orang yang tak maju-maju, mereka hanya sudah merasa pas dengan apa yang mereka miliki dan tak perlu untuk melakukan perubahan untuk maju. Mereka hanya berfikir untuk kehidupan dunia saja, tidak memikirkan untuk kehidupan akhirat.

"Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi." (QS 16:107-109)

Mereka yang telah dikunci hatinya untuk kehidupan dunia saja, mendapat azab dari Allah. Itulah golongan mereka yang merugi. Kalaupun mereka beramal, amalannya hanya seadanya saja. Hadits Rasulullah

"Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi." (HR. An-Nasaa'i dan Tirmidzi)

Jadi, yang mana yang akan kita pilih, kebaikan atau keburukan, hal itu tergantung pada diri kita sendiri dan bagaimana cara kita melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tak dapat dirasakan secara cepat. Perlahan tapi pasti kita akan merasakannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites